Februari 24, 2015

Semoga... dan aamiin

Hari ini sengaja banget jam 11:00 baru ngampus. Demi apalah, aku nggak siap! Jurnal belum kebaca lagi, belum bikin riset gap, belum bikin ringkasan, tapi tetep datengin mertua (baca: dosen pembimbing). Haha, karena satu yang udah aku siapin, telinga buat dengerin omelan beliau, juga mental yang kuat buat dibentak-bentak. Sip!!!

Sampe sana, salaman dulu biar kayak anak berbakti, terus nggak ternyata nggak terjadi apa-apa, dan beliau langsung memintaku masuk ke ruangan, ternyata di sana anak-anak yang lain belum pada dateng. Sialan! Bakal dihabisin sendiri ini mah, batinku. 

Mertua masih menatap layar komputernya, terus ada anak yang dateng buat minta tanda tangan di revisian skripsinya. Namanya Pak Edy, segalanya itu nggak mau terlihat gampang, apa-apanya harus didapat dengan perjuangan, apalagi soal menandatangani revisian begitu. Terjadilah sesi tanya jawab. Kemudian hening seketika. Terus....
"Isna, sini," namaku terpanggil, dengan sigap aku menghampiri beliau yang masih dengan cewek yang tadi datang.
"Lihat ini, orang udah skripsi kok ditanyain fenomena nggak tau. Coba kamu, apa fenomena, kasih contohnya?!"
Aku sedikit gelagepan. Yaelah, baru duduk juga, udah disuruh ikut jawab aja.
"Semisal fenomena korupsi, masih banyaknya korupsi yang merajalela padahal bla bla bla..."
"Nah itu, duduk sana sama Isna, minta diajarin."
GUBRAK!!!
Duduklah aku dengan cewek tadi. Terus aku berbisik padanya, "Mbak, tadi itu bisa jawab karena lagi untung aja, sebenernya aku juga nggak ngerti."
"Aku nggak mau tau, Mbak, yang pasti Pak Edy minta aku buat nanya ke Mbak. Jadi, ini fenomenanya di sebelah mana?" terjang cewek tadi.
Dan jadilah aku baca skripsi itu sembari berdoa biar Kiki -anak bimbingan Pak Edy yang tinggal wisuda- segera dateng, karena selama ini emang apa-apa selalu dia yang bantu buat jawab pertanyaan-pertanyaan.

***

"Sudah sampe mana?" tanya mertua yang kini sudah berdiri di sampingku.
"Masih bikin riset gap, Pak."
"Yo."

Entah kemudian kami ngobrolin apa, sampailah pada obrolan yang bikin beliau menarik kursi dan duduk di sampingku.
"Oh iya, toh? Sekarang udah kelas pesawat terus dia."
"Iya, Pak. Kalau dia bilang, hidupnya sekarang cuma check in-check out, terbang keliling Indonesia."
Pak Edy sibuk dengan gadget-nya, beberapa kali terdengar gadget-nya memanggil, tapi nggak nyambung, sampe akhirnya beliau nanya, "Nomornya berapa toh?" 
Aku membuka kontakku, mencari nomor seseorang yang sepertinya dirindukan Pak Edy. "Yang belakangnya 703, Pak."
"Oalah, ganti lagi. Saya terakhir SMS itu bulan Oktober. Dia sempet telpon waktu mau terbang ke Surabaya."

Betapa di situ aku merasakan bagaimana beliau membanggakan dia, dia yang dulu menjadi satu-satunya seniorku yang paling kukenal, yang paling absurd, yang suka goyah perihal asmara, yang paling ambisius.

Pak Edy memanggil nomor yang baru saja kukasih, tapi sibuk.
"Wah, dia sekarang sibuk sekali ya."
"Begitulah, Pak. Sekarang juga udah jarang komunikasi." Terus, tiba-tiba aku memberanikan bertanya, ini udah jadi pertanyaan yang terpendam. Penasaran.
"Katanya, waktu dulu sidang, Pak Edy sempet nggak lulusin."
"Dia cerita? Memang, saya minta dosen-dosen penguji buat nggak lulusin dia. Itu karena saya pingin nilai dia baik, kalo langsung dilulusin, nilainya belum cukup baik."
"Cerita, Pak. Dia sempet emosi, sempet kaget. Saya juga sebenenrnya, masalahnya dengan seyakin itu, sekeras itu dia belajar, sepercaya itu dia dengan Pak Edy, tapi nggak dilulusin. Dia sempet kecewa dengan bapaknya."
"Bapaknya?" tanya Pak Edy bingung.
"Iya, dia nganggep Pak Edy udah kayak bapak sendiri. Apa-apa diceritain, Pak. Betapa support Pak Edy itu menambah ambisiusnya," aku tertawa kecil.
Kulihat Pak Edy terdiam, entahlah apa yang sedang beliau pikirkan. Dari matanya ada sinar yang menunjukkan kebanggaan.
"Sebelum kerja itu dia sempet minta pendapat, jadi auditor di Jakarta atau kerja di bank yang deket dengan orangtuanya. Saya langsung bilang, beragkat Jakarta! Ya itu sampe sekarang dia udah bisa naik pesawat."
"Saya juga bilang sama dia, Pak, kalo sedikit dari mimpinya terwujud. Keliling Indonesia, tapi gratis. Dengan jadi auditor, sekarang dia bisa kemana-mana."

Kemudian pecah. Suara Pak Edy memenuhi ruangan.
"Kiki, kamu tau Sholeh?"
"Yang jadi asisten dosennya Bu Dyah itu, Pak?" tanyanya.
"Bukan cuma Bu Dyah aja sih. Dia asisten banyak dosen." kataku melengkapi.
"Udah bisa naik pesawat gratis itu. Dia itu meski kecil tapi tahan banting. Dulu waktu bimbingan sering banget saya bentak-bentak gitu. Mental itu memang perlu diasah."
Suara Pak Edy kemudian menusuk gendang telingaku. "Lanjutkan punyamu, kamu terlihat lebih bisa dari yang lain." 

***

Aku nggak lagi lanjutin riset gap-ku. Lagi pingin bernostalgia. Dulu ketika dia belum melalangbuana, kerapkali di perpustakaan ketika aku nemenin dia jaga perpus, kami banyak berbagi mimpi. Kami banyak berbagi cerita tentang bagaimana susahnya hidup. Kami memang terlihat begitu konyol, hobi menertawakan kepedihan hidup, dan ambisius buat wujudin apa pun yang kami inginkan.

Sekarang ketika rindu itu kembali hadir tanpa permisi, aku cuma perlu dateng ke perpustakaan, duduk di sana, lalu bernostalgia. Meneliti lagi, mana mimpi yang sudah tercapai dan mana mimpi yang perlu diusahakan dengan lebih.

Semoga aku dan dia tetap menjadi sepasang kawan konyol yang suka menertawai keabsurdan hidup. Semoga aku dan dia bisa kembali menikmati secangkir kopi di warung kucingan. Semoga aku dan dia bisa merasakan bagaimana serunya memasak meskipun hanya masak mie instan. Semoga kelak aku dan dia berhasil di impian masing-masing.

Semoga... dan aamiin.


Semarang, 23 Februari 2015.



Tidak ada komentar: